Sang Pemimpi: Tarian imajinasi dan stambul mimpi-mimpi anak-anak Melayu Belitong
Cetakan I, Juli 2006
Sang Pemimpi adalah sebuah lantunan kisah kehidupan yang mempesona yang akan membuat anda percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan, lebih dari itu, akan membuat anda percaya kepada Tuhan. Andrea akan membawa Anda berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran dimana Anda akan menemukan pandangan yang berbeda tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru. Tampak komik pada awalnya, selayaknya kenakalan remaja biasa, tapi kemudian tanpa Anda sadari kisah dan karakter-karakter dalam buku ini lambat laun menguasai Anda. Karena potret-potret kecil yang menawan akan menghentakkan Anda pada rasa humor yang halus namun memiliki efek filosofis yang meresonansi. Karena arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah dua orang tokoh utama buku ini, Arai dan Ikal, akan menuntun Anda dengan semacam keanggunan dan daya tarik agar Anda dapat melihat ke dalam diri sendiri dengan penuh pengharapan, agar Anda menolak semua keputusasaan dan ketakberdayaan Anda sendiri. "Kita tak ‘kan pernah mendahului nasib!" teriak Arai"Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!""Andrea adalah seorang seniman kata-kata."—Nicola Horner, jurnalis di London, kontributor The Guardian, dan pemerhati kesusastraan MelayuNovel kedua Hirata ini tidak kurang kocaknya dibandingkan Laskar Pelangi. Tuturannya mengalir, menyentuh, mencerahkan, menggelikan, membidik pusat kesadaran, dan jauh dari sifat menggurui. Selamat membaca. —Ahmad Syafii Maarif, cendekiawan dan mantan ketua umum PP MuhammadiyahUntuk sebuah karya sastra bergaya saintifik dengan penyampaian cerdas dan sangat menyentuh, nama Andrea Hirata sudah bisa jadi jaminan. —Ahmad Tohari, penulis trilogi Ronggeng Dukuh ParukProlog Sang Pemimpi
Aku telah menghabiskan demikian banyak waktu untuk novel keduaku ini bukan untuk menulisnya, menulisnya tak lebih dari empat minggu, namun untuk mempertanyakan pada diriku sendiri tentang teori kurva belajar (learning curve) yang dengan sangat kurang ajar kureka-reka sendiri. Awalnya, aku ingin sekali, agar setiap buah pikiran yang ada dalam setiap paragraf yang kuhaturkan kepada Anda merupakan bagian dari suatu pencerahan karena aku telah mempelajari semua aspeknya dengan seksama. Namun rupanya aku ini bukan Truman Capote yang mampu melihat intelejensia pada setiap gelembung peristiwa lalu menulisnya dengan presisi yang mengagumkan.
Maka kurendahkan sedikit standard diatas dengan mencoba menisbikan kompleksitas suatu fenomena lalu menyajikannya secara ringan tapi imajinatif tanpa mengkorupsi esensi dari fenomena itu, ini juga tak sukses karena ternyata aku bukan Antonio Skarmeta.
Namun aku berkeras dengan teori learning curve versiku itu sebab aku begitu termotivasi untuk menjaga nilai-nilai yang menurutku seharusnya ada dalam sebuah buku: ilmu, semangat, integritas, keberanian bercita-cita, dan ajakan untuk tidak menyerah pada rintangan apapun. Klasik memang, tapi apa boleh buat, hanya hal-hal seperti itulah yang menarik minatku untuk menulis. Lagi pula aku telah menemukan daya tarik yang tak habis-habisnya dari gaya menulis secara realis. Motivasi jenis ini merupakan warisan pelajaran mutiara raja brana, harta berkilauan tak ternilai yang kudapat dari dua orang guruku di sebuah sekolah dasar yang hampir rubuh, dan akhirnya rubuh: Ibu Muslimah Hafsari dan Bapak Harfan Efendy Noor. Anda akan berkenalan dengan orang-orang gagah berani ini, para ksatria pendidikan yang terabaikan ini, jika Anda sempat membaca buku pertamaku Laskar Pelangi.
Akhirnya yang kulakukan adalah memetakan saja setiap titik dari kurva belajarku sejak mula lalu menulisnya dengan berusaha memperhitungkan secara teliti implikasi emosi dari setiap bab. Dramanya dimulai dari kelas satu SD sampai kelas tiga SMP, dan yang kudapat adalah Laskar Pelangi. Sebagai bagian dari tetralogi Laskar Pelangi maka novel Sang Pemimpi di tangan Anda ini bercerita tentang kelanjutan perjuangan tokoh-tokoh menarik yang ada didalamnya sejak mereka remaja SMA. Lalu lihatlah bagaimana dahsyatnya tenaga dari mimpi orang-orang muda itu sehingga membawa mereka pada penaklukan-penaklukan yang tak terbayangkan.
Sebagai seorang anak Melayu, mencerburkan diri ke dalam samudera sastra bagiku sama rasanya seperti menggoda sarang tawon.
"Bangsa Melayu adalah bangsa pujangga, pikirkan seratus kali dari pada tulisanmu hanya akan mencemari nama nenek moyangmu!" demikian pesan seorang kritikus.
Sehingga menulis memoar seperti Sang Pemimpi ini, dibawah jajahan insomnia yang parah, kata-kataku menjelma menjadi seekor hewan terirorial yang liar. Setengah mati aku memaksanya keluar dari liangnya untuk membebaskan diriku dari keakuan agar aku tak menjadi narsis, kelelahan aku menjaganya untuk tak melintasi teritori itu agar tak tercabik-cabik dilibas literatur populer yang perkasa mengangkangi industri buku dewasa ini, terhuyung-huyung aku berusaha tegak dalam teritoriku demi reputasi nenek-nenek moyangku, dan yang paling menggemaskan, belum tentu akan ada penerbit buku-yang merupakan bagian dari kaum kapitalis itu-yang berminat menerima karyaku yang tak sudi tunduk pada selera pasar ini.
Maka inilah kawan, dengan gagah berani, kupersembahkan padamu Sang Pemimpi. Terutama karena terdorong oleh daya juang tokoh-tokoh dalam cerita ini: Arai dan Ikal. Tak gentar mereka menibarkan mimpi-mimpinya di bulan ketika kaki-kaki muda mereka yang kumal dan telanjang masih terbenam di dermaga Magai, nun jauh di pulau terpencil Belitong sana, untuk menyambung hidup, untuk membiayai sendiri pendidikannya. Bagaimanakah nasib akan memperlakukan mereka?
Bagian yang paling menarik dalam riset saat menulis buku ini adalah aku menemukan ternyata perjalanan nasib seseorang tak ubahnya seperti ekstrapolasi potongan-potongan mozaik. Mozaik-mozaik itu terserak-serak dalam berbagai dimensi ruang dan waktu namun nanti perlahan-lahan, secara misterius, ia akan berkumpul membentuk eksistensi orang tersebut. Inspirasi terbesar dari pengetahuan tentang mozaik ini mulanya dicetuskan oleh guru kusesasteraan SMA saya yang hebat: Bapak Julian Ichsan Balia.
Dalam konteks dunia buku saat ini, menulis dan mungkin membaca buku seperti ini diperlukan keberanian. Namun jika anda seorang yang juga tak mudah surut menghadapi carut marut hidup ini, seperti Arai dan Ikal, senang dengan tantangan, menyukai letupan-letupan mara bahaya, harapanku adalah Anda dapat berdendang seirama genderang kata yang kutabuh, Anda dapat menari serancak imajinasi, melantun seindah gurindamku, tersenyum, tertawa, terharu, dan menangis bersama tokoh-tokoh yang jujur, para patriot kehidupan sehari-hari, di dalam buku ini. Sebaliknya bagi Anda yang berminat menulis buku semacam ini jangan biarkan pena Anda bertekuk lutut. Teruslah menulis, kabarkan kebenaran, walaupun Anda terancam bangkrut.
Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan dua novel lagi yang sedang kutulis secara simultan saat ini dengan judul Edensor dan Maryamah Karpov-novel terakhir ini tentang penghormatan pada kaum perempuan-merupakan tetralogi Laskar Pelangi yang kuanggap sebagai proyek seni pribadiku untuk Belitong, pulau kecil kelahiranku nun di serambi Laut China Selatan sana. Meletakkan budaya orang Melayu dan Tionghoa Melayu di Belitong sebagai platform untuk mendefinisikan tetralogi itu merupakan elemen yang paling menggairahkanku. Ingin rasanya mampu menulis buku-buku yang mampu menghidupkan karakter dan budaya, sayangnya aku ini bukan Alexander McCall Smith.
Keep fighting
Andrea
http://sastrabelitong.multiply.com/
Sabtu, 24 November 2007
Wasiat Hasan Al Banna
Saudaraku... Janganlah engkau putus asa, karena putus asa bukan akhlak seorang muslim. Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah impian kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan hari esok. waktu masih panjang dan hasrat akan terwujudnya kedamaian masih tertanam dalam jiwa masyarakat kita, meski fenomena-fenomena kerusakan dan kemaksiatan menghantui mereka. Yang lemah tidak akan lemah sepanjang hidupnya dan yang kuat tidak akan selamanya kuat.
Laskar Pelangi: Buku pertama dari tetralogi Laskar Pelangi
Cetakan I, September 2005
Cetakan III, Maret 2006
Koran Tempo, 30 Oktober 2005, Santi Indra Astuti, Msi, Dosen Ilmu Komunikasi Unisba, Universitas Indonesia Awardee : Masa Kecil yang Ageless, Timeless, Borderless, Inspiratif!
"...Seru! Novel ini tidak mengajak pembaca untuk menangisi kemiskinan. Sebaliknya, mengajak kita untuk memandang kemiskinan dengan cara lain. Tepatnya melihat sisi lain dari kondisi kekurangan yang mampu melahirkan kreativitas-kreativitas tak terduga. Keterbatasan-keterbatasan yang dialami nyatanya menumbuhkan anggota Laskar Pelangi menjadi karakter-karakter yang unik. Kenakalan-kenakalan kecil bercampur dengan kepolosan yang cerdas, menghadirkan satu adonan menakjubkan tentang bagaimana masa kecil dipersepsi dan dijalani oleh anak-anak yang luar biasa ini. Mereka menjadi luar biasa karena hidup dalam keterbatasan, luar biasa karena dibesarkan dengan idealisme pendidikan yang terasa naif di jaman sekarang, sekaligus luar biasa karena garis nasib menuntun mereka menjadi sosok-sosok yang tidak pernah terduga oleh siapapun.
MEMOAR, SASTRA RISET
Laskar Pelangi bersumber dari kisah nyata penulisnya. Andrea dibesarkan dalam tipikal keluarga menegha Indonesia yang lebih sering beresiko njomplang ke bawah daripada naik ke atas, di sebuah kampung miskin yang berbatasan dengan sebuah kerajaan besar PN Timah dengan semua fasilitas yang mewah & mahal di tengah asuhan budaya keluarga yang masih kental dengan nilai-nilai Islami. Sekolah yang diceritakan di sini adalah kelas-kelas berdinding kayu, berlantai tanah, beratap bocor, yang kalau malam menjadi kandang hewan. Tanpa poster burung Garuda, foto presiden dan wakil presiden. Amat sederhana bangunan sekolah itu. Tapi persoalan apapun menyangkut pendidikan tak pernah sederhana....
Menariknya, Andrea mengolah semua itu tanpa terjebak pada keberpihakan primordialitas, penyimpulan yang general dan simplistis yang lagi-lagi menyalahkan kesenjangan ekonomi, atau melarikan persoalan pada isu-isu normatif yang semata-mata bersandar pada dogma-dogma religius. Lewat tuturan masa kecil di sekolahnya dan narasinya yang begitu peka dan kaya akan amatan sosiokultural, Andrea meyakinkan pembacanya ihwal the magic of childhood memories, serta adanya pintu keajaiban untuk mengubah dunia: pendidikan. Dalam Laskar Pelangi tergambar pula kecintaan dan rasa hormat pada para Guru. Bagi Andrea, guru-guru seperti Bu Mus dan Pak Harfan adalah pelita, dalam arti yang sesungguhnya. Karya ini mengajak para pembaca untuk berterimakasih pada sang Guru dan merenungkan jasa-jasa mereka tanpa upacara atau nasihat-nasihat klise.
Laskar Pelangi merupakan sebuah memoar, dan mengolah memoar menjadi novel yang memikat bukan perkara gampang. Nyatanya, Laskar Pelangi menjadi memoar yang sangat menarik. Ia menjadi sebuah karya yang menyentuh secara emosional, tapi juga mencerahkan secara intelektual. Deskripsi yang sangat filmis ihwal nature maupun culture dalam Laskar Pelangi tidak saja mampu menarikan imajinasi membentuk theatre of mind di dalam benak. Lebih dari itu, kekayaan referensi lewat kajian literatur yang diolah menjadi bagian-bagian menarik dalam novel ini mengejutkan layak pula dijadikan setidaknya sebagai awal dari suatu rujukan ilmiah. Novel ini berpotensi menjadi satu diantara sedikit karya yang bakal membuat kita tergugah untuk menjenguk kembali sisa-sisa kenangan masa kecil yang mungkin masih kita miliki, serta menghormati sekolah dasar kita, guru-guru kita, lingkungan kecil kita, teman-teman bandel yang kerap menggoda dan dulu begitu menjengkelkan. Mungkin, itulah satu-satunya yang tersisa dari jati diri kita yang masih memperlihatkan serpih kejujuran setelah hasrat duniawi menopengi kita dengan beragam citra artifisial untuk meraih semua keinginan dalam kerakusan ambisi kita...."
Majalah Tempo, 12-18 Des 2005, Cahyo Junaedy, Kemelaratan yang Indah, Novel Laskar Pelangi adalah memoar masa kecil penulisnya, Andrea Hirata Seman. Sebagai sebuah cerita fiksi yang berdasarkan kisah nyata, Andrea berhasil menyajikan kenangannya menjadi cerita yang menarik. Apalagi dibalut sejumlah metafora dan deskripsi yang kuat, filmis saat memotret lanskap atau budaya masyarakat Kampung Belitong yang menjadi setting utama cerita. Terlepas dari itu, kehadiran Laskar Pelangi di tengah booming novel chick-lit menjadi media alternatif dan ditunggu. Setidaknya terbaca dari penjualan novel ini. Cetakan pertama novel yang diterbitkan oleh Bentang ini ludes dalam sebulan…."
Majalah Gatra, Edisi ke XII tahun 2005, Gerard Arijo Guritno, Novel tentang dunia anak-anak yang mencuri perhatian "Ada keindahan di sekolah Islam melarat ini. Keindahan yang takkan kutukar dengan seribu kemewahan sekolah lain" (Andrea). Mempertanyakan keyakinan keliru dan usang modernitas tampaknya menjadi kekuatan utama novel ini. Andrea, tanpa harus mengiba-iba dan muluk-muluk, bertutur mengenai hidup yang harus diperjuangkan dengan cara-cara yang benar. Dan dunia pendidikan adalah kuncinya. Disana amunisi menghadapi kehidupan yang sesungguhnya dipilih dan disiapkan.
Majalah Femina, Secuil potret pendidikan di negara kita yang memprihatinkan
Majalah Suara Muhammadiyah, Amru, 16-31 Mei 2006, Amru, Karya yang cerdas dan pantas mendapat penghargaan
Harian Pikiran Rakyat, 17 November 2005, Dewi Irma, Laskar Pelangi tak menyajikan kesulitan mengakses pendidikan karena faktor kemiskinan, dengan cara yang menghiba-hiba. Sebaliknya, kita diajak untuk pantang berputus asa pada keadaan. Kita diajak untuk tidak menangisi kemiskinan, namun melihat sisi lain dari kemiskinan tersebut. Sebuah kisah tentang anak-anak yang luar biasa, yang mampu melahirkan semangat serta kreativitas yang mencengangkan.
Harian Media Indonesia, Himawijaya,31 Oktober 2005, Laskar Pelangi berhasil diolah dengan baik oleh penulis hingga cukup mengaduk emosi para pembaca.
Koran Republika, 30 Januari 2006, Anwar Holid Laskar Pelangi nyata-nyata mampu menarik perhatian publik dan membuat banyak orang merasa terlibat
Harian Tribun Jabar, Hermawan Aksan (Penulis Diah Pitaloka): Metafora-metafora yang ditulis Andrea demikian kuat karena unik dan orisinal.
Bangka Pos, 8 Des 2005, Rasa humor yang halus dan luasnya cakrawala pengetahuan Andrea adalah daya tarik utama Laskar Pelangi.
Belitung Pos, Popo,Kita akan tertawa, menangis, dan merenung bersama buku ini
Harian Galamedia, Gaya bahasa yang mengasyikkan, menantang untuk dibaca
Tabloid Indago, Msya,Sebagai penulis pemula, Andrea mankjubkan karena mampu menampilkan deskripsi yang kuat
www.bangkapos.com Pembaca diajak untuk masuk dalam dunia anak-anak yang heroik, tulus dan menggelikan
www.indosiar.com, Ketika membaca laskar pelangi kita seakan menemukan Gabriel Garcia Marquez, Nicolai gogol, atau Alan Lightman...sebuah bacaan yang sangat inspiratif dan mampu memberi kekuatan
www.pembelajar.com, Edy Zakeus, Setitik kesegaran di tengah-tengah dahaganya pembaca pada karya-karya bermutu
Prof.DR. Ahmad Syafi’i Maarif, cendikiawan, mantan ketua PP Muhammadiyah, Founder Maarif Institute: Saya larut dalam empati yang dalam sekali. Seandainya novel ini difilmkan akan dapat membangkitkan ruh bangsa yang sedang mati suri.
Prof. Sapardi Djoko Damono, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia: Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik
Arwin Rasyid, CEO PT Telkom: Cerita Laskar pelangi sangat inspiratif. Andrea akan megobarkan semnagt siapa saja yang selalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan.
Korrie Layun Rampan, Sastrawan: Inilah kisah yang sangat mengharukan tentang duania pendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, gigih, penuh dedikasi
Garin Nugroho, Sutradara: Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam semangat humanis yang menyentuh.
Riri Riza, Sutradara: Andrea Hirata memberi kisah syair indah tentang keragaman dan kekayaan tanah air, sekaligus memberi sebuah pernyataan keras tentang realita politik, ekonomi, dan situasi pendidikan kita. Tokoh-tokoh dalam novel ini membawa saya pada kerinduan menjadi orang Indonesia...a must read!!"
Akmal Nasery Basral, Jurnalis-Penulis Imperia: Sebuah memoar dalam bentuk novel yang sulit dicari tandingannya dalam khazanah kontemporer penulis kita.
Kak Seto, Psikolog, Ketua Komnas Perlindungan Anak: Saya sangat mengagumi novel Laskar pelangi karya Andrea Hirata. Novel ini menujukkan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul
Herni Kusyari, Guru SD di daerah terpencil, Buku ini membuatku sangat bangga menjadi seorang guru.
Rita Achdris, Jurnalis-Penulis (Selasar kenangan), Andrea seperti sedang trance, menulis Laskar pelangi dengan kadar emosi demikian ketal, bertabur metafora penuh pesona, hanya dalam waktu tiga pekan.
Fadly Arifin, Bookaholic, Yang trance bukan Andrea tapi pembacanya
Ida Tejawiani, Housewife, Sebagai seorang ibu dapat merasakan hubungan ibu, anak, murid, guru dalam buku ini memiliki semacam tenaga telepatik
Feby Liana, Karyawati, Kekuatan deskripsi Andrea membuatku ingin bertemu dengan anak-anak Laskar Pelangi
Neno, Siswi SMA 3 Bandung, Gue menangis dan ketawa membaca laskar pelangi, menangis dan ketawa nggak berhenti-berhenti..
http://sastrabelitong.multiply.com/
Cetakan III, Maret 2006
Koran Tempo, 30 Oktober 2005, Santi Indra Astuti, Msi, Dosen Ilmu Komunikasi Unisba, Universitas Indonesia Awardee : Masa Kecil yang Ageless, Timeless, Borderless, Inspiratif!
"...Seru! Novel ini tidak mengajak pembaca untuk menangisi kemiskinan. Sebaliknya, mengajak kita untuk memandang kemiskinan dengan cara lain. Tepatnya melihat sisi lain dari kondisi kekurangan yang mampu melahirkan kreativitas-kreativitas tak terduga. Keterbatasan-keterbatasan yang dialami nyatanya menumbuhkan anggota Laskar Pelangi menjadi karakter-karakter yang unik. Kenakalan-kenakalan kecil bercampur dengan kepolosan yang cerdas, menghadirkan satu adonan menakjubkan tentang bagaimana masa kecil dipersepsi dan dijalani oleh anak-anak yang luar biasa ini. Mereka menjadi luar biasa karena hidup dalam keterbatasan, luar biasa karena dibesarkan dengan idealisme pendidikan yang terasa naif di jaman sekarang, sekaligus luar biasa karena garis nasib menuntun mereka menjadi sosok-sosok yang tidak pernah terduga oleh siapapun.
MEMOAR, SASTRA RISET
Laskar Pelangi bersumber dari kisah nyata penulisnya. Andrea dibesarkan dalam tipikal keluarga menegha Indonesia yang lebih sering beresiko njomplang ke bawah daripada naik ke atas, di sebuah kampung miskin yang berbatasan dengan sebuah kerajaan besar PN Timah dengan semua fasilitas yang mewah & mahal di tengah asuhan budaya keluarga yang masih kental dengan nilai-nilai Islami. Sekolah yang diceritakan di sini adalah kelas-kelas berdinding kayu, berlantai tanah, beratap bocor, yang kalau malam menjadi kandang hewan. Tanpa poster burung Garuda, foto presiden dan wakil presiden. Amat sederhana bangunan sekolah itu. Tapi persoalan apapun menyangkut pendidikan tak pernah sederhana....
Menariknya, Andrea mengolah semua itu tanpa terjebak pada keberpihakan primordialitas, penyimpulan yang general dan simplistis yang lagi-lagi menyalahkan kesenjangan ekonomi, atau melarikan persoalan pada isu-isu normatif yang semata-mata bersandar pada dogma-dogma religius. Lewat tuturan masa kecil di sekolahnya dan narasinya yang begitu peka dan kaya akan amatan sosiokultural, Andrea meyakinkan pembacanya ihwal the magic of childhood memories, serta adanya pintu keajaiban untuk mengubah dunia: pendidikan. Dalam Laskar Pelangi tergambar pula kecintaan dan rasa hormat pada para Guru. Bagi Andrea, guru-guru seperti Bu Mus dan Pak Harfan adalah pelita, dalam arti yang sesungguhnya. Karya ini mengajak para pembaca untuk berterimakasih pada sang Guru dan merenungkan jasa-jasa mereka tanpa upacara atau nasihat-nasihat klise.
Laskar Pelangi merupakan sebuah memoar, dan mengolah memoar menjadi novel yang memikat bukan perkara gampang. Nyatanya, Laskar Pelangi menjadi memoar yang sangat menarik. Ia menjadi sebuah karya yang menyentuh secara emosional, tapi juga mencerahkan secara intelektual. Deskripsi yang sangat filmis ihwal nature maupun culture dalam Laskar Pelangi tidak saja mampu menarikan imajinasi membentuk theatre of mind di dalam benak. Lebih dari itu, kekayaan referensi lewat kajian literatur yang diolah menjadi bagian-bagian menarik dalam novel ini mengejutkan layak pula dijadikan setidaknya sebagai awal dari suatu rujukan ilmiah. Novel ini berpotensi menjadi satu diantara sedikit karya yang bakal membuat kita tergugah untuk menjenguk kembali sisa-sisa kenangan masa kecil yang mungkin masih kita miliki, serta menghormati sekolah dasar kita, guru-guru kita, lingkungan kecil kita, teman-teman bandel yang kerap menggoda dan dulu begitu menjengkelkan. Mungkin, itulah satu-satunya yang tersisa dari jati diri kita yang masih memperlihatkan serpih kejujuran setelah hasrat duniawi menopengi kita dengan beragam citra artifisial untuk meraih semua keinginan dalam kerakusan ambisi kita...."
Majalah Tempo, 12-18 Des 2005, Cahyo Junaedy, Kemelaratan yang Indah, Novel Laskar Pelangi adalah memoar masa kecil penulisnya, Andrea Hirata Seman. Sebagai sebuah cerita fiksi yang berdasarkan kisah nyata, Andrea berhasil menyajikan kenangannya menjadi cerita yang menarik. Apalagi dibalut sejumlah metafora dan deskripsi yang kuat, filmis saat memotret lanskap atau budaya masyarakat Kampung Belitong yang menjadi setting utama cerita. Terlepas dari itu, kehadiran Laskar Pelangi di tengah booming novel chick-lit menjadi media alternatif dan ditunggu. Setidaknya terbaca dari penjualan novel ini. Cetakan pertama novel yang diterbitkan oleh Bentang ini ludes dalam sebulan…."
Majalah Gatra, Edisi ke XII tahun 2005, Gerard Arijo Guritno, Novel tentang dunia anak-anak yang mencuri perhatian "Ada keindahan di sekolah Islam melarat ini. Keindahan yang takkan kutukar dengan seribu kemewahan sekolah lain" (Andrea). Mempertanyakan keyakinan keliru dan usang modernitas tampaknya menjadi kekuatan utama novel ini. Andrea, tanpa harus mengiba-iba dan muluk-muluk, bertutur mengenai hidup yang harus diperjuangkan dengan cara-cara yang benar. Dan dunia pendidikan adalah kuncinya. Disana amunisi menghadapi kehidupan yang sesungguhnya dipilih dan disiapkan.
Majalah Femina, Secuil potret pendidikan di negara kita yang memprihatinkan
Majalah Suara Muhammadiyah, Amru, 16-31 Mei 2006, Amru, Karya yang cerdas dan pantas mendapat penghargaan
Harian Pikiran Rakyat, 17 November 2005, Dewi Irma, Laskar Pelangi tak menyajikan kesulitan mengakses pendidikan karena faktor kemiskinan, dengan cara yang menghiba-hiba. Sebaliknya, kita diajak untuk pantang berputus asa pada keadaan. Kita diajak untuk tidak menangisi kemiskinan, namun melihat sisi lain dari kemiskinan tersebut. Sebuah kisah tentang anak-anak yang luar biasa, yang mampu melahirkan semangat serta kreativitas yang mencengangkan.
Harian Media Indonesia, Himawijaya,31 Oktober 2005, Laskar Pelangi berhasil diolah dengan baik oleh penulis hingga cukup mengaduk emosi para pembaca.
Koran Republika, 30 Januari 2006, Anwar Holid Laskar Pelangi nyata-nyata mampu menarik perhatian publik dan membuat banyak orang merasa terlibat
Harian Tribun Jabar, Hermawan Aksan (Penulis Diah Pitaloka): Metafora-metafora yang ditulis Andrea demikian kuat karena unik dan orisinal.
Bangka Pos, 8 Des 2005, Rasa humor yang halus dan luasnya cakrawala pengetahuan Andrea adalah daya tarik utama Laskar Pelangi.
Belitung Pos, Popo,Kita akan tertawa, menangis, dan merenung bersama buku ini
Harian Galamedia, Gaya bahasa yang mengasyikkan, menantang untuk dibaca
Tabloid Indago, Msya,Sebagai penulis pemula, Andrea mankjubkan karena mampu menampilkan deskripsi yang kuat
www.bangkapos.com Pembaca diajak untuk masuk dalam dunia anak-anak yang heroik, tulus dan menggelikan
www.indosiar.com, Ketika membaca laskar pelangi kita seakan menemukan Gabriel Garcia Marquez, Nicolai gogol, atau Alan Lightman...sebuah bacaan yang sangat inspiratif dan mampu memberi kekuatan
www.pembelajar.com, Edy Zakeus, Setitik kesegaran di tengah-tengah dahaganya pembaca pada karya-karya bermutu
Prof.DR. Ahmad Syafi’i Maarif, cendikiawan, mantan ketua PP Muhammadiyah, Founder Maarif Institute: Saya larut dalam empati yang dalam sekali. Seandainya novel ini difilmkan akan dapat membangkitkan ruh bangsa yang sedang mati suri.
Prof. Sapardi Djoko Damono, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia: Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik
Arwin Rasyid, CEO PT Telkom: Cerita Laskar pelangi sangat inspiratif. Andrea akan megobarkan semnagt siapa saja yang selalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan.
Korrie Layun Rampan, Sastrawan: Inilah kisah yang sangat mengharukan tentang duania pendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, gigih, penuh dedikasi
Garin Nugroho, Sutradara: Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam semangat humanis yang menyentuh.
Riri Riza, Sutradara: Andrea Hirata memberi kisah syair indah tentang keragaman dan kekayaan tanah air, sekaligus memberi sebuah pernyataan keras tentang realita politik, ekonomi, dan situasi pendidikan kita. Tokoh-tokoh dalam novel ini membawa saya pada kerinduan menjadi orang Indonesia...a must read!!"
Akmal Nasery Basral, Jurnalis-Penulis Imperia: Sebuah memoar dalam bentuk novel yang sulit dicari tandingannya dalam khazanah kontemporer penulis kita.
Kak Seto, Psikolog, Ketua Komnas Perlindungan Anak: Saya sangat mengagumi novel Laskar pelangi karya Andrea Hirata. Novel ini menujukkan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul
Herni Kusyari, Guru SD di daerah terpencil, Buku ini membuatku sangat bangga menjadi seorang guru.
Rita Achdris, Jurnalis-Penulis (Selasar kenangan), Andrea seperti sedang trance, menulis Laskar pelangi dengan kadar emosi demikian ketal, bertabur metafora penuh pesona, hanya dalam waktu tiga pekan.
Fadly Arifin, Bookaholic, Yang trance bukan Andrea tapi pembacanya
Ida Tejawiani, Housewife, Sebagai seorang ibu dapat merasakan hubungan ibu, anak, murid, guru dalam buku ini memiliki semacam tenaga telepatik
Feby Liana, Karyawati, Kekuatan deskripsi Andrea membuatku ingin bertemu dengan anak-anak Laskar Pelangi
Neno, Siswi SMA 3 Bandung, Gue menangis dan ketawa membaca laskar pelangi, menangis dan ketawa nggak berhenti-berhenti..
http://sastrabelitong.multiply.com/
Jangan Ciut Hati
Jangan Ciut Hati dihadapan cobaan ! Karena cobaan dapat menempa kedewasaan, menggugah akal dan membakar semangat. (DR. 'Aidh Al Qarni)
Kamis, 22 November 2007
Orang Malas Akan Tertinggal ...
ORANG MALAS AKAN TERTINGGAL. ORANG BINGUNG AKAN TERTIDUR. ORANG YANG KOSONG AKAN MENGANGGUR. ORANG YANG BANYAK ANGAN TIDAK AKAN PUNYA APA-APA. (DARI MIFTAH AN-NAJAH DR. 'AIDH AL-QARNI)
Langganan:
Komentar (Atom)