Cetakan I, September 2005
Cetakan III, Maret 2006
Koran Tempo, 30 Oktober 2005, Santi Indra Astuti, Msi, Dosen Ilmu Komunikasi Unisba, Universitas Indonesia Awardee : Masa Kecil yang Ageless, Timeless, Borderless, Inspiratif!
"...Seru! Novel ini tidak mengajak pembaca untuk menangisi kemiskinan. Sebaliknya, mengajak kita untuk memandang kemiskinan dengan cara lain. Tepatnya melihat sisi lain dari kondisi kekurangan yang mampu melahirkan kreativitas-kreativitas tak terduga. Keterbatasan-keterbatasan yang dialami nyatanya menumbuhkan anggota Laskar Pelangi menjadi karakter-karakter yang unik. Kenakalan-kenakalan kecil bercampur dengan kepolosan yang cerdas, menghadirkan satu adonan menakjubkan tentang bagaimana masa kecil dipersepsi dan dijalani oleh anak-anak yang luar biasa ini. Mereka menjadi luar biasa karena hidup dalam keterbatasan, luar biasa karena dibesarkan dengan idealisme pendidikan yang terasa naif di jaman sekarang, sekaligus luar biasa karena garis nasib menuntun mereka menjadi sosok-sosok yang tidak pernah terduga oleh siapapun.
MEMOAR, SASTRA RISET
Laskar Pelangi bersumber dari kisah nyata penulisnya. Andrea dibesarkan dalam tipikal keluarga menegha Indonesia yang lebih sering beresiko njomplang ke bawah daripada naik ke atas, di sebuah kampung miskin yang berbatasan dengan sebuah kerajaan besar PN Timah dengan semua fasilitas yang mewah & mahal di tengah asuhan budaya keluarga yang masih kental dengan nilai-nilai Islami. Sekolah yang diceritakan di sini adalah kelas-kelas berdinding kayu, berlantai tanah, beratap bocor, yang kalau malam menjadi kandang hewan. Tanpa poster burung Garuda, foto presiden dan wakil presiden. Amat sederhana bangunan sekolah itu. Tapi persoalan apapun menyangkut pendidikan tak pernah sederhana....
Menariknya, Andrea mengolah semua itu tanpa terjebak pada keberpihakan primordialitas, penyimpulan yang general dan simplistis yang lagi-lagi menyalahkan kesenjangan ekonomi, atau melarikan persoalan pada isu-isu normatif yang semata-mata bersandar pada dogma-dogma religius. Lewat tuturan masa kecil di sekolahnya dan narasinya yang begitu peka dan kaya akan amatan sosiokultural, Andrea meyakinkan pembacanya ihwal the magic of childhood memories, serta adanya pintu keajaiban untuk mengubah dunia: pendidikan. Dalam Laskar Pelangi tergambar pula kecintaan dan rasa hormat pada para Guru. Bagi Andrea, guru-guru seperti Bu Mus dan Pak Harfan adalah pelita, dalam arti yang sesungguhnya. Karya ini mengajak para pembaca untuk berterimakasih pada sang Guru dan merenungkan jasa-jasa mereka tanpa upacara atau nasihat-nasihat klise.
Laskar Pelangi merupakan sebuah memoar, dan mengolah memoar menjadi novel yang memikat bukan perkara gampang. Nyatanya, Laskar Pelangi menjadi memoar yang sangat menarik. Ia menjadi sebuah karya yang menyentuh secara emosional, tapi juga mencerahkan secara intelektual. Deskripsi yang sangat filmis ihwal nature maupun culture dalam Laskar Pelangi tidak saja mampu menarikan imajinasi membentuk theatre of mind di dalam benak. Lebih dari itu, kekayaan referensi lewat kajian literatur yang diolah menjadi bagian-bagian menarik dalam novel ini mengejutkan layak pula dijadikan setidaknya sebagai awal dari suatu rujukan ilmiah. Novel ini berpotensi menjadi satu diantara sedikit karya yang bakal membuat kita tergugah untuk menjenguk kembali sisa-sisa kenangan masa kecil yang mungkin masih kita miliki, serta menghormati sekolah dasar kita, guru-guru kita, lingkungan kecil kita, teman-teman bandel yang kerap menggoda dan dulu begitu menjengkelkan. Mungkin, itulah satu-satunya yang tersisa dari jati diri kita yang masih memperlihatkan serpih kejujuran setelah hasrat duniawi menopengi kita dengan beragam citra artifisial untuk meraih semua keinginan dalam kerakusan ambisi kita...."
Majalah Tempo, 12-18 Des 2005, Cahyo Junaedy, Kemelaratan yang Indah, Novel Laskar Pelangi adalah memoar masa kecil penulisnya, Andrea Hirata Seman. Sebagai sebuah cerita fiksi yang berdasarkan kisah nyata, Andrea berhasil menyajikan kenangannya menjadi cerita yang menarik. Apalagi dibalut sejumlah metafora dan deskripsi yang kuat, filmis saat memotret lanskap atau budaya masyarakat Kampung Belitong yang menjadi setting utama cerita. Terlepas dari itu, kehadiran Laskar Pelangi di tengah booming novel chick-lit menjadi media alternatif dan ditunggu. Setidaknya terbaca dari penjualan novel ini. Cetakan pertama novel yang diterbitkan oleh Bentang ini ludes dalam sebulan…."
Majalah Gatra, Edisi ke XII tahun 2005, Gerard Arijo Guritno, Novel tentang dunia anak-anak yang mencuri perhatian "Ada keindahan di sekolah Islam melarat ini. Keindahan yang takkan kutukar dengan seribu kemewahan sekolah lain" (Andrea). Mempertanyakan keyakinan keliru dan usang modernitas tampaknya menjadi kekuatan utama novel ini. Andrea, tanpa harus mengiba-iba dan muluk-muluk, bertutur mengenai hidup yang harus diperjuangkan dengan cara-cara yang benar. Dan dunia pendidikan adalah kuncinya. Disana amunisi menghadapi kehidupan yang sesungguhnya dipilih dan disiapkan.
Majalah Femina, Secuil potret pendidikan di negara kita yang memprihatinkan
Majalah Suara Muhammadiyah, Amru, 16-31 Mei 2006, Amru, Karya yang cerdas dan pantas mendapat penghargaan
Harian Pikiran Rakyat, 17 November 2005, Dewi Irma, Laskar Pelangi tak menyajikan kesulitan mengakses pendidikan karena faktor kemiskinan, dengan cara yang menghiba-hiba. Sebaliknya, kita diajak untuk pantang berputus asa pada keadaan. Kita diajak untuk tidak menangisi kemiskinan, namun melihat sisi lain dari kemiskinan tersebut. Sebuah kisah tentang anak-anak yang luar biasa, yang mampu melahirkan semangat serta kreativitas yang mencengangkan.
Harian Media Indonesia, Himawijaya,31 Oktober 2005, Laskar Pelangi berhasil diolah dengan baik oleh penulis hingga cukup mengaduk emosi para pembaca.
Koran Republika, 30 Januari 2006, Anwar Holid Laskar Pelangi nyata-nyata mampu menarik perhatian publik dan membuat banyak orang merasa terlibat
Harian Tribun Jabar, Hermawan Aksan (Penulis Diah Pitaloka): Metafora-metafora yang ditulis Andrea demikian kuat karena unik dan orisinal.
Bangka Pos, 8 Des 2005, Rasa humor yang halus dan luasnya cakrawala pengetahuan Andrea adalah daya tarik utama Laskar Pelangi.
Belitung Pos, Popo,Kita akan tertawa, menangis, dan merenung bersama buku ini
Harian Galamedia, Gaya bahasa yang mengasyikkan, menantang untuk dibaca
Tabloid Indago, Msya,Sebagai penulis pemula, Andrea mankjubkan karena mampu menampilkan deskripsi yang kuat
www.bangkapos.com Pembaca diajak untuk masuk dalam dunia anak-anak yang heroik, tulus dan menggelikan
www.indosiar.com, Ketika membaca laskar pelangi kita seakan menemukan Gabriel Garcia Marquez, Nicolai gogol, atau Alan Lightman...sebuah bacaan yang sangat inspiratif dan mampu memberi kekuatan
www.pembelajar.com, Edy Zakeus, Setitik kesegaran di tengah-tengah dahaganya pembaca pada karya-karya bermutu
Prof.DR. Ahmad Syafi’i Maarif, cendikiawan, mantan ketua PP Muhammadiyah, Founder Maarif Institute: Saya larut dalam empati yang dalam sekali. Seandainya novel ini difilmkan akan dapat membangkitkan ruh bangsa yang sedang mati suri.
Prof. Sapardi Djoko Damono, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia: Ramuan pengalaman dan imajinasi yang menarik
Arwin Rasyid, CEO PT Telkom: Cerita Laskar pelangi sangat inspiratif. Andrea akan megobarkan semnagt siapa saja yang selalu dirundung kesulitan dalam menempuh pendidikan.
Korrie Layun Rampan, Sastrawan: Inilah kisah yang sangat mengharukan tentang duania pendidikan dengan tokoh-tokoh manusia sederhana, jujur, gigih, penuh dedikasi
Garin Nugroho, Sutradara: Di tengah berbagai berita dan hiburan televisi tentang sekolah yang tak cukup memberi inspirasi dan spirit, maka buku ini adalah pilihan yang menarik. Buku ini ditulis dalam semangat realis kehidupan sekolah, sebuah dunia tak tersentuh, sebuah semangat bersama untuk survive dalam semangat humanis yang menyentuh.
Riri Riza, Sutradara: Andrea Hirata memberi kisah syair indah tentang keragaman dan kekayaan tanah air, sekaligus memberi sebuah pernyataan keras tentang realita politik, ekonomi, dan situasi pendidikan kita. Tokoh-tokoh dalam novel ini membawa saya pada kerinduan menjadi orang Indonesia...a must read!!"
Akmal Nasery Basral, Jurnalis-Penulis Imperia: Sebuah memoar dalam bentuk novel yang sulit dicari tandingannya dalam khazanah kontemporer penulis kita.
Kak Seto, Psikolog, Ketua Komnas Perlindungan Anak: Saya sangat mengagumi novel Laskar pelangi karya Andrea Hirata. Novel ini menujukkan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul
Herni Kusyari, Guru SD di daerah terpencil, Buku ini membuatku sangat bangga menjadi seorang guru.
Rita Achdris, Jurnalis-Penulis (Selasar kenangan), Andrea seperti sedang trance, menulis Laskar pelangi dengan kadar emosi demikian ketal, bertabur metafora penuh pesona, hanya dalam waktu tiga pekan.
Fadly Arifin, Bookaholic, Yang trance bukan Andrea tapi pembacanya
Ida Tejawiani, Housewife, Sebagai seorang ibu dapat merasakan hubungan ibu, anak, murid, guru dalam buku ini memiliki semacam tenaga telepatik
Feby Liana, Karyawati, Kekuatan deskripsi Andrea membuatku ingin bertemu dengan anak-anak Laskar Pelangi
Neno, Siswi SMA 3 Bandung, Gue menangis dan ketawa membaca laskar pelangi, menangis dan ketawa nggak berhenti-berhenti..
http://sastrabelitong.multiply.com/
Sabtu, 24 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar